Warga pedagang ikan di Kelurahan Petuk Ketimpun melayani para pembeli. (FOTO: RINALDI)
MUSIM kemarau mendatangkan berkah bagi warga Kelurahan Petuk Ketimpun, Kota Palangka Raya. Debit air sungai, danau, dan rawa yang berkurang membuat iwak alias ikan di wilayah ini lebih mudah ditangkap.
Banjirnya tangkapan ikan nelayan tradisional Petuk Ketimpun membuat kampung ini destinasi wisata belanja ikan dadakan. Pasar ikan dibuat di dermaga Petuk Ketimpun, masyarakat dari berbagai penjuru Kota Palangka Raya berdatangan untuk datang dan membeli.
Ikan hasil tangkapan nelayan yang dijual beraneka ragam. Di antaranya, haruan, kaluy (gurame), karandang, patin, baung, lais, biawan, papuyu (betok), puyau, saluang, dan lain-lain. Semua fresh, hasil tangkapan di alam liar sungai, danau, dan rawa sekitar atau diistilahkan “alas” yang berarti bukan hasil budidaya kolam atau keramba.
Harga yang dipatok pedagang jauh lebih murah dibanding harga umum pasar-pasar di dalam Kota Palangka Raya. Ikan lais yang sangat digemari warga, misalnya, dijual mulai harga Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu per kilo, tergantung ukurannya.
Para pengunjung yang umumnya kalangan emak-emak dapat membelinya dalam bentuk utuh maupun telah dibersihkan (disiang). Aktivitas layanan membersihkan ikan ini menjadi sumber penghasilan remaja-remaja putri kawasan sekitar.
Senin (4/8/2025) sore awak redaksi edukalteng.com datang untuk menyaksikan fenomena keriuhan pasar ikan dadakan yang telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir ini. Berikut beberapa foto yang kami dokumentasikan dari lokasi pesta ikan endemik Kalimantan Tengah ini. (sar)








)* Redaksi menerima dan menayangkan kiriman koleksi foto (esay foto) dari pembaca. Silahkan kirim foto-foto menarik anda ke e-mail: redaksiedukalteng@gmail.com dan konfirmasikan kiriman melalui WA: 085249308147.