(Oleh: Rosadi Jamani)*
Kita memang sedang bersedih. Bencana tanda tangan di Sumatera hampir mendekati seribu korban jiwa. Ditambah 22 jiwa yang tewas di gedung Terra Drone. Sedih dan perih. Di tengah awan gelap itu ada secercah cahaya pelipur lara. Tim bulutangkis beregu putra sukses meraih emas usai kandaskan Malaysia 3-0. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di gelanggang bulutangkis SEA Games 2025, Indonesia tiba-tiba menjelma menjadi fenomena alam. Bukan lagi tim, tapi badai tropis kategori lima yang datang tanpa permisi. Malaysia, yang awalnya siap bertempur dengan senyum optimis, mendadak seperti desa kecil yang melihat radar cuaca berubah warna merah. Dalam hitungan jam, final beregu putra berubah menjadi BMKG edisi spesial, peringatan dini, potensi angin kencang, dan hujan smes tak terduga.
Alwi Farhan adalah gempa pembuka. Ia mengguncang Leong Jun Hao 21-15 di gim pertama. Getaran itu terasa sampai tribun, mungkin skala 6,8 SR kalau mau ditulis resmi. Gim kedua 21-18 masih dalam rentang aftershock yang meretakkan mental lawan. Malaysia cuma bisa menatap langit-langit arena sambil bertanya, “Apakah tadi ada pergeseran lempeng tektonik di area depan net?”
Lalu badai kedua datang. Sabar Karyaman Gutama dan M. Reza Pahlevi Isfahani. Mereka bukan sekadar duo ganda putra, mereka adalah kombinasi angin puting beliung dan hujan batu es. Aaron Chia/Soh Wooi Yik mencoba bertahan, tapi kombinasi pertahanan rapat Sabar/Reza membuat shuttlecock sering kembali ke mereka seperti ombak pasang. Gim pertama 21-12 adalah sapuan angin yang merobohkan atap. Gim kedua 21-12 adalah tsunami kecil yang menyapu sisa-sisa perlawanan Malaysia. Ketika skor 2-0 terpampang, orang-orang mungkin mulai merasa butuh perahu karet.
Kemudian muncullah Ubed atau dalam konteks bencana, mungkin lebih akurat disebut letusan gunung berapi level internasional. Mohammad Zaki Ubaidillah meledak di lapangan, memuntahkan lava rally panjang dan smes-smes panas yang membuat Justin Hoh tampak seperti turis yang salah masuk zona merah. Gim pertama 21-12 menunjukkan letusan fase awal. Gim kedua 21-14 adalah pyroclastic flow, cepat, panas, tak bisa dihindari. Indonesia menang 3-0, dan Malaysia resmi masuk fase rehabilitasi mental.
Namun, seperti siklus alam, setelah badai besar biasanya datang hujan gerimis yang membuat hati agak sendu. Tim putri Indonesia berjuang luar biasa, tapi menghadapi Thailand yang menjadi tuan rumah, perjalanan mereka berakhir dengan perak.
Putri KW sebenarnya adalah kilat pembuka yang menyambar keras. Menang 21-8 di gim pertama, ia seperti petir yang memecah langit Bangkok. Lalu terjadi hujan deras di gim kedua, skor 13-21. Tapi di gim ketiga, Putri kembali menjadi badai lokal, menutup 21-18. Indonesia unggul 1-0, dan harapan naik seperti permukaan air pasang.
Gregoria Mariska Tunjung kemudian menghadapi Ratchanok Intanon. Jorji kewalahan melawan arus itu, kalah 12-21 dan 15-21. Skor menjadi 1-1, dan angin mulai berubah arah.
Apriyani Rahayu dan Siti Fadia Silva Ramadhanti melawan Jongkolphan/Rawinda dalam duel bak topan yang saling beradu putaran. Namun Thailand lebih stabil sebagai pusat tekanannya. Kalah 19-21 dan 18-21, Indonesia tertinggal 1-2. Ester Nurumi Tri Wardoyo mencoba melawan Supanida Katethong, tapi angin dari tribun Thailand terlalu kencang. Ester kalah 15-21 dan 17-21. Thailand mengambil emas, Indonesia mendapatkan perak, sebuah hujan rintik yang tetap berharga.
Total 9 medali telah dikumpulkan Indonesia hingga 10 Desember 2025, 3 emas dari taekwondo poomsae team, kano mixed four 500 meter, dan beregu putra bulutangkis; 4 perak termasuk dari beregu putri; serta 2–3 perunggu dari cabang-cabang awal. Indonesia berada di posisi 2–3, bersaing ketat dengan Thailand dan Singapura.
)* Penulis adalah Ketua Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Provinsi Kalimantan Barat
)* Penulis adalah Ketua Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Provinsi Kalimantan Barat