TEROR - Bangkai ayam dan pesan tertuls yang dikirim pelaku teror ke kediaman influencer dan aktivis terkait kritik penanganan bencana banjir di Sumatra. (FOTO: IST)
Jakarta (edukalteng.com) – Deretan influencer hingga aktivis mendapat teros setelah mengkritik kinerja pemerintah. Praktisi Hak Asas Manusia (HAM) menilai teror ini merupakan upaya sistematis untuk menciptakan iklim ketakutan.
Para influencer dan aktivis tersebut mendapatkan ter0r dari orang tak dikenal. Mulai dari peretasan alat elektr0nik, orderan fiktif dari platform yang mengatasnamakan mereka, kriman surat berisi ancaman, pencoretan body mobil, pengiriman bangkai ayam, hingga pelemparan bom molotov.
Mereka yang mendapat teror demikian di antaranya influencer Sherly Annavita, Yama Carlos, Dj Donny, dan Pitengz. Selanjutnya aktivis Virdian Aurellio, dan Iqbal Damanik (Aktivis greenpeace). Dj Donny, influencer yang aktif menyuarakan kritik terhadap pemerintah, bahkan menerima dua kali teror ke rumahnya dalam kurun waktu tiga hari terakhir.
Terkait insiden itu, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid mengecam aksi teror yang terjadi kepada para aktivis dan influencer yang aktif mengkritik penanganan banjir di Sumatra. Dikatakannya, jika kasus teror ini tidak diusut, seolah negara membenarkan praktik tersebut.
“Jika teror berlalu tanpa pengusutan, negara secara tidak langsung merestui praktik anti-kritik dan memvalidasi kekhawatiran Amnesty bahwa 2025 adalah tahun malapetaka nasional HAM,” kata Usman kepada media, Kamis (1/1/2026).
Usman mengatakan, teror bangkai ayam, pelemparan telur busuk, vandalisme, hingga serangan bom molotov dan serangan digital adalah upaya sistematis untuk menciptakan iklim ketakutan. Padahal apa yang dilakukan oleh para aktivis dan influencer tersebut telah dijamin oleh konstitusi sebagai bentuk kebebasan dan kemerdekaan berpendapat.
“Pola serangan ini memiliki benang merah, yaitu pembungkaman kritik publik atas buruknya penanganan bencana ekologis di Sumatra akibat kebijakan pro-deforestasi,” kata Usman.
Usman menyebut, kritik yang lahir dari solidaritas kemanusiaan dan semangat perbaikan ini justru dibalas intimidasi fisik dan digital.
Dari pesan ancaman “Mulutmu Harimaumu” yang ditujukan kepada Iqbal, hingga Donny, Sherly dan Virdian, kata Usman, memberikan kesan negara ini belum memiliki kewibawaan hukum sehingga orang tertentu berani melakukan teror digital dan fisik tanpa rasa takut pada hukum.
Terpisah, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengecam keras aksi teror yang dialami sejumlah influencer setelah menyampaikan kritik terhadap pemerintah terkait penanganan bencana di Sumatra.
Komisioner Kompolnas M Choirul Umam mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas rangkaian aksi teror tersebut. Kompolnas juga meminta polisi mengungkap sosok dalang di balik teror yang dinilai mengancam kebebasan berpendapat itu. (med/sar)