Ilustrasi foto biawak. (IST)
Palangka Raya (edukalteng.com) – Di banyak kompleks perumahan, ada “penjaga” yang jarang disadari kehadirannya. Bentuknya mirip Godzilla versi mini atau komodo yang gagal casting: biawak. Hewan ini bukan cuma bisa hidup di selokan, tapi juga tumbuh sebesar anak balita, dengan ekor yang bisa jadi senjata kalau lagi bad mood.
Awalnya, biawak berasal dari hutan dan rawa. Namun, seiring habitat mereka berubah jadi perumahan dan lapangan futsal, mereka beradaptasi. Bagi biawak, selokan bukan tempat menjijikkan, melainkan hotel bintang lima: teduh, ada air, dan penuh “menu” prasmanan.
Soal makanan, mereka tergolong omnivora oportunis. Mulai dari ikan got, bangkai ayam, tikus, sampai ular. Bahkan, menurut laporan National Geographic dan Herpetological Conservation, biawak memang predator alami beberapa spesies ular kecil. Tak heran, di area yang banyak biawaknya, populasi ular jarang terlihat.
Peran biawak di lingkungan ternyata cukup besar. Mereka ibarat gabungan petugas kebersihan dan satpam: membersihkan bangkai, mengurangi populasi tikus, dan mengusir ular, tanpa meminta upah atau bikin grup WhatsApp RT.
Pesan moralnya jelas: jangan menilai dari tampang. Makhluk yang terlihat menakutkan kadang justru punya peran pelindung. Dalam hidup, mungkin saja kita juga sedang menjadi “biawak” bagi orang di sekitar—tidak terlihat, tapi bermanfaat.
Jadi, kalau besok Anda melihat biawak keluar dari selokan, jangan buru-buru panik. Bisa jadi, itu sedang patroli, memastikan lingkungan tetap aman. (rzk/med)