SALAH satu scene film animasi Merah Putih One For All. (IST)
Jakarta (edukalteng.com) – Sutradara film animasi “Merah Putih One For All” mengakui karakter dan properti pendukung pembuatan film tersebut mereka beli dari platform digital. Hal itulah yang membuat produksi film selesai relatif cepat.
Seperti diketahui, film animasi ini menuai kritikan luas dari masyarakat lantaran kualitasnya yang dinilai rendah dibanding animasi sejenis. Hal itu dianggap tak sebanding dengan isu biaya produksi yang disebut mencapai Rp 6,7 miliar.
Menurut sang sutradara, Endiarto, proses penggarapan film animasi ini tidak butuh waktu lama karena tidak memulai menggambar satu persatu secara manual. Dia mengakui karakter atau pendukung lainnya yang ada di film animasi Merah Putih membeli aset melalui platform digital.
Dikatakannya, membeli karakter atau pendukung lainnya melalui platform digital merupakan hal yang normal dan banyak dilakukan oleh perusahaan film.
“Perusahaan film internasional sekaliber Hollywood juga memakai source karakter dari platform digital, kan pembeliannya paket. Seorang animator pasti memiliki source itu. Karakter-karakter itu bisa diambil dari situ, bisa juga tidak diambil mentah-mentah tapi dikombinasikan, dan lain sebagainya. Dan itu legal. Itu biasa,” katanya.
Endiarto menambahkan, film animasi Merah Putih One for All mulai direncanakan akan dibuat pada Agustus tahun lalu berangkat dari kegelisahan tidak ada film nasional dibuat khusus untuk merayakan momen perayaan HUT Kemerdekaan RI.
Sejak saat itu, dibuat naskah cerita dan langsung mulai digarap dengan melibatkan tim yang bersedia tidak dibayar karena memiliki visi sama ingin memberikan kado spesial untuk perayaan Hari Kemerdekaan ke-80 RI. Dengan demikian, proses penggarapannya dari tahap awal sampai film Merah Putih One for All tayang di bioskop memerlukan waktu sekitar satu tahun.
Sonny Pudjisasono selaku eksekutif produser film animasi Merah Putih One for All mengakui pergerakan untuk karakter-karakter dalam film ini tidak dilakukan secara manual. Tapi menggunakan alat yang langsung membuat si karakter melakukan pergerakan berdasarkan perintah.
“Kita tidak menggambar dan menggerakkannya si karakter satu persatu, bisa lama kalau begitu. Ada alat yang bisa menggerakkan si karakter secara otomatis,” katanya.
Untuk proses penggarapan film animasi Merah Putih dikerjakan oleh director animasi bernama Bintang Takari. Sementara tim yang terlihat mengerjakan di bawahnya sepenuhnya dipercayakan kepada Bintang.
“Director animator saudara Bintang. Tapi dia ada bawahannya untuk mengerjakan teknis, dan itu sepenuhnya tanggung jawab dia. Kita mengerjakan yang lain,” katanya. (net/sar)